Sumenep-, Aktivitas pembelian tembakau di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjadi perhatian di tengah musim panen 2026. Gudang garam di Kecamatan Guluk-Guluk merupakan salah satu lokasi yang disorot karena disebut hanya menggunakan sekitar 14 bandul tembakau. Jumlah tersebut dinilai jauh lebih sedikit dibandingkan musim panen tembakau pada tahun-tahun sebelumnya.
Gudang tersebut juga disebut sebagai salah satu pabrikan tembakau berskala industri besar yang berada di Madura. Namun, hingga hari ini, pabrikan tembakau berskala besar tersebut belum melakukan pembelian tembakau petani secara maksimal.
Kondisi itu semakin membuat petani tembakau khawatir. Pasalnya, sebagian besar petani mulai memasuki masa panen, sementara sejumlah pabrikan besar lainnya juga belum membuka pembelian.
Salah seorang petani tembakau, Abdul Hasan, mengaku kebingungan menjual hasil panennya. Menurutnya, tembakau yang telah dipanen terpaksa ditumpuk di halaman rumah karena belum terserap oleh pabrikan.
“Tidak ada pabrikan besar yang buka, padahal mayoritas para petani sudah panen. Tembakau kami menumpuk di halaman rumah. Kami resah dan kemungkinan musim panen tembakau kami merugi tahun ini,” ungkap Abdul Hasan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi petani. Sebab, biaya produksi tembakau cukup besar, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, obat-obatan hingga biaya tenaga kerja.
Ketika hasil panen tidak segera terserap pasar, petani berpotensi mengalami kerugian. Terlebih, kualitas daun tembakau dapat menurun apabila terlalu lama disimpan dalam kondisi yang tidak sesuai.
Persoalan tersebut juga mendapat sorotan dari Syaiful Maulana, aktivis Madura Bergerak. Ia mengindikasikan adanya dugaan permainan atau keterlibatan kelompok tertentu yang selama ini berkepentingan dalam rantai perdagangan tembakau.
Syaiful menyebut pihaknya akan melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab minimnya pembelian tembakau dari petani pada musim panen tahun ini.
“Kami akan melakukan pendalaman terkait persoalan ini. Ada indikasi keterlibatan kelompok-kelompok mafia tembakau yang perlu kami telusuri lebih jauh,” kata Syaiful.
Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan apabila benar-benar berdampak terhadap penghasilan petani dan buruh tani tembakau.
Menurutnya, pemerintah harus hadir memberikan perlindungan kepada petani, terutama ketika harga dan penyerapan tembakau menjadi persoalan setiap musim panen.
Syaiful mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya berencana menyampaikan hasil pendalaman tersebut kepada publik. Langkah itu dilakukan agar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mengetahui kondisi yang dihadapi petani tembakau di Madura.
“Dalam waktu dekat kami akan speak up ke publik. Kami ingin pemerintahan Prabowo Subianto mengetahui nasib para petani tembakau dan buruh tani tembakau yang ekonominya semakin terpuruk,” tegasnya.
Petani berharap pemerintah, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan segera mencari solusi agar hasil panen dapat terserap dengan harga yang layak. Mereka juga berharap pabrikan tembakau berskala industri besar di Madura segera membuka pembelian secara transparan sehingga petani tidak terus menanggung risiko kerugian setelah bekerja sepanjang musim.
Penulis : Bayu Segoro
Editor : AB Ibrahim













