Surabaya-, Bupati Sumenep mengingatkan perusahaan atau pabrikan tembakau besar yang beroperasi di Madura agar memperhatikan kondisi petani dalam menentukan harga pembelian tembakau. Pabrikan diminta membeli hasil panen petani sesuai dengan harga titik impas yang telah disepakati bersama.
Pesan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran petani tembakau Madura terhadap rendahnya serapan hasil panen. Pasalnya, hingga saat ini masih terdapat sejumlah pabrikan besar yang belum membuka pembelian tembakau petani.
Kondisi tersebut berpotensi membuat petani mengalami kerugian. Terlebih, biaya produksi tembakau tahun ini cukup besar, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, obat-obatan, hingga biaya tenaga kerja.
Bupati Sumenep menilai keberadaan industri hasil tembakau seharusnya mampu memberikan kepastian pasar bagi petani. Karena itu, pabrikan diharapkan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan perusahaan, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan petani sebagai pemasok utama bahan baku.
Menurutnya, harga pembelian tembakau perlu mengacu pada harga titik impas yang telah menjadi kesepakatan. Dengan demikian, petani setidaknya memiliki peluang untuk menutup biaya produksi dan memperoleh keuntungan yang wajar dari hasil panennya.
“Pabrikan besar yang ada di Madura kami ingatkan agar membeli tembakau petani sesuai harga titik impas yang sudah disepakati,” demikian pesan Bupati Sumenep.
Kondisi belum dibukanya pembelian oleh sejumlah pabrikan besar juga menjadi perhatian petani. Sebab, ketika masa panen berlangsung, petani membutuhkan kepastian tempat dan harga untuk menjual tembakaunya.
Jika pembelian tidak segera dilakukan, tembakau hasil panen dikhawatirkan menumpuk di tingkat petani. Situasi tersebut dapat melemahkan posisi tawar petani dan berpotensi membuat mereka terpaksa menjual dengan harga di bawah biaya produksi.
Bupati berharap pabrikan segera mengambil langkah konkret dengan membuka pembelian secara proporsional serta memberikan harga yang layak. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat terus menjembatani kepentingan petani dan industri agar persoalan tata niaga tembakau tidak selalu menjadi masalah setiap musim panen.
Bagi petani Madura, kepastian harga dan serapan menjadi dua hal penting. Mereka tidak hanya membutuhkan hasil panen yang terserap, tetapi juga harga yang mampu memberikan keuntungan setelah seluruh biaya produksi diperhitungkan.
Karena itu, komunikasi antara pemerintah, petani, dan pabrikan dinilai menjadi kunci untuk menciptakan tata niaga tembakau yang lebih adil. Dengan harga sesuai titik impas dan serapan yang memadai, petani diharapkan tidak menjadi pihak yang paling dirugikan dalam rantai industri hasil tembakau.
Penulis : AB Ibrahim
Editor : Waisul Karni













